Calon Profesor bingung ketemu Ulama gunung.
Di sebuah perguruan tinggi ternama, di kawasan timur sana, adalah seorang guru besar yang kebingungan karena pertanyaan muridnya,
Murid;
Prof, gemana sih menurut prof yang di maksud dengan wujud Allah itu?
Prof;
Kemudian si Prof ini menjawab dengan detil tentang wujud Allah, tentunya dengan dalil akli (akal) dan dalil naqlinya (al-Qur’an) kemudian ia tambahkan pendapat-pendapatnya pula dan tentunya ia menyarankan juga sama muridnya”Bertafakurlah dengan ciptaan Allah dan kebesaran-Nya, janganlah bertafakur dengan Dzat Allah swt.
Murid:?
ternyata si murid tidak puas dengan jawaban Profnya ini,
Murid;
Prof, apasih yang dimaksud dengan takdir itu?
Prof;
Kemudian si Prof kembali menjawab pertanyaan si murid ini, dengan gamblang di ungkapnya Devinisi takdir, tentunya dari berbagai literature dan reverensi yang ia miliki, ia tambahkan pula pendapat-pendapatnya sendiri, yah namanya Prof, pastilah jago dalam hal ini,
Murid;
ternyata si murid tidak puas dengan jawaban Profnya ini,
Murid;
Prof, apakah mungkin syetan akan merasa tersiksa dengan api neraka? sementara syetan di ciptakan dari api, api sama api kan satu jenis?
Prof;
Dalam hal ini Prof mulai kebingungan, tapi namanya juga Prof, malu dong? kalau kalah ama muridnya, ia nda? he, he, nasibmu, Prof.
Kemudian ia coba menjawab dengan jawaban-jawaban logikanya yang berilian itu,
Murid;
Ternyata si murid tidak puas dengan jawaban Profnya ini, malah dalam hal ini muridnya sangat merasa tidak terpuaskan,
Kang Ja’far. Perlu di ketahui, si murid ini namanya Dr, Mudasir, he,he, :D--> :)-->
Suatu hari Dr. Mudasir bersilaturahmi sama orang tuanya, eh, ternyata orang tuanya tinggal di lereng sebuah gunung di satu daerah di Indonesia, setibanya di rumah sepuhnya, sang doctor ini, kemudian salam dan masuk kerumahnya, satu hal yang mengganjal di hati sepuhnya adalah, sikap anaknya yang agak aneh, sikap dan perilakunya tidak seperti biasanya. Oh, mungkin pengaruh pergaulan luar Nagreg? pikir si sepuh ini, ah, biarlah nanti kalau sudah istirahat mau saya tanya kata sepuhnya.
Sang doctor yang masih belum terpuaskan dengan keingin tahuanya akan tiga hal tadi, terkagetkan dengan sapaan sang ayah yang tiba2 menghampirinya, kenapa sih nak, sepertinya ada masalah?
Sang doctor kemudian menjelasakan keingin tahuanya tentang tiga hal yang selama ini menjadi satu hal yang menyita perhatianya, dan merasa belum puas dengan jawaban-jawaban dari guru besarnya.
Kemudian, tanpa di duga sebelumnya, sang ayah menampar Dr.Mudasir dengan tamparan dimuka sang doctor’’
Dr.Mudasir;
Loh, ko Abi nampar sayah sih? bukanya mendengar dan ikut memikirkan pertanyaan saya? kata si doctor sambil sedikit agak marah, mungkin kalo bukan ayahnya yang nampar, sudah balik nampar sang doctor ini.
Sang Ayah;
Wahai anaku tercinta, itulah yang dinamakan taqdir,
Bukankah kamu tidak pernah berfikir sebelumnya akan di tampar oleh Abi?
Tetapi hal itu sekarang telah menimpa kamu?
Dr.Mudasir;
Tapi kan saya sakit Abi!, kata sang doctor ini seraya memegang mukanya yang kena tamparan tadi.
Sang Ayah;
Wahai anaku tercinta, coba kamu buktikan dihadapan Abi, rasa sakit itu seperti apa wujudnya.
Dr.Mudasir;
Sang doctor ini rupanya merenung sejenak, dan tak mampu berkata satu patah katapun (bingung nya, naros atuh ka kang Ja’far)
Sang Ayah;
Wahai anaku tercinta, jangankan Dzat Allah swt, yang serba maha dan Mukholafatul lilhawadist, ciptaanya saja, rasa sakit padahal ada. Tetapi, ternyata engkau tidak bisa menjawabnya.
Dr.Mudasir;
Sang doctor kemudian kembali merenung, sambil masih tersisa sedikit rasa nyeri di wajahnya bekas tamparan sang ayah, kemudian ia kembali berkata sama ayahya.
Dr.Mudasir;
Kenapa Abi mukul wajah saya?
Sang ayah;
Abi sengaja memukul kamu wahai anaku, dengan tangan abi, karena tangan Abi adalah kulit yang Allah ciptakan, wajah kamu juga kulit yang Allah ciptakan. Dan apabila Allah swt berkehendak, kulit sama kulitpun akan menimbulkan rasa sakit, begitupun syetan akan tersiksa nanti di dalam Neraka Allah swt, walaupun syetan diciptakan dari api,
”””wallohu a’lam”””
Subhanalloh, hanya satu tamparan dari sang Ayah, (Ulama Ahlul ibadah) Ternyata mampu menjawab tiga pertanyaan sekaligus, yang tak pernah terpuaskan, meski puluhan Profesor telah menjelaskanya…”Al-Ulama’u warrosatul anbiya”







