Yang dijamin Oleh Allah, dan yang tidak
Yang dijamin oleh Allah,dan yang tidak dijamin
Allah swt, adalah tuhan kita, Allah yang menciptakan manusia, Allah yang memberikan bentuk, bahkan dengan bentuk yang terbaik, dalam Al-Qur’an Allah swt Berpirman: Q.S T-Tiin ayat 4…
لَقَدْ خَلَقْنَا اِلا نْسَنَ فِى اَحْسَنِ تَقْوِيمٍ...
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
Bukan hanya itu, Allah pula yang mengurus kita, Allah yang telah selesai menentukan segala sesuatu untuk mahluk-Nya.
Dalam hal ini, Manusia yang Allah ciptakan dalam penciptaan yang paling sempurna, di jamin oleh Allah dan tidak dijamin oleh Allah swt.
Pertama:
Satu hal yang dijamin oleh Allah swt adalah rizqi setiap mahluknya, Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an
Surat Hud ayat..6
وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الا رْضِ اِلا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِى كِتَبٍ مُّبِيْنٍ....
6. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
[709] Yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[710] Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.
Masalah rizqi setiap mahluk Allah sudah selesai mengaturnya, sehingga tidak ada satu mahlukpun yang luput dari pemberian-Nya, bahkan bukan hanya yang mampu, yang tidak mampu pun Allah lah yang menjamin rizqinya…
Q.S. Al-Ankabut ayat 60…..
وَكأَيِّنْ مِنْ دَآبَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقُهَا,اَللهُ يَرْزُقُهَا وَاِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ...
60. Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Apalagi manusia yang Allah lebihkan dari mahluk yang lainya, Allah karuniakan Akal pikiran untuk manusia, supaya manusia mampu mempergunakan akal pikiranya untuk menjemput rizqi yang telah Allah tentukan, dengan akalnya manusia diharuskan mampu menjeput jatah rizqinya, sehingga dengannya terpenuhi semua kebutuhan hidupnya semata-mata untuk bekal ibadah kepadda Allah swt…
Karena begitu rahman dan rahimnya Allah, sehingga jangankan manusia yang berakal, manusia yang tidak memiliki akal pun, seperti orang gila, Allah masih tetap menjamin rizqinya.
Permasalahanya adalah,bagaimanakah kita yang telah dijamin rizqinya oleh Allah, berupaya untuk menjeput jatah rizqi yang telah Allah tentukan? Apakah dengan cara yang Allah ridho’I? Ataukah dengan cara yang Allah murkai, dengan cara benar? Ataukah dengan cara yang salah? tentunya semuanya berpulang kepada diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang mngejar kebahagiaan sesaat, ataukah kita berkeinginan kebahagiaan yang selama-lamanya (abadan amada) yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat.”semoga kita termasuk di dalamnya Amien”
Kedua.
Hal yang tidak dijamin oleh Allah swt.
Hal yang tidak dijamin oleh Allah swt, adalah amal perbuatan manusia. Allah mempersilahkan kita melakukan hal apapun di dunia ini, Allah hanya mengingatkan kepada manusia, bahwa sekecil apapun perbuatan/amal kita di dunia ini, kita yang akan mempertanggung jawabkanya di hadapan Allah swt…
Q.S. Al-kahfi ayat 7……….
أِنَاجَعَلْنَا مَاعَلىَ الارْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً...
7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
Sungguh, semuanya hanyalah ujian dari Allah swt. Berbuat baikah kita, atau berbuat jahatkah kita, tentunya semuanya akan berpulang kepada diri kita sendiri,
Seperti halnya masalah rizqi yang telah Allah jamin untuk manusia, Apkah kita akan menjemputnya dengan cara yang halal? ataukah kita akan menjemputnya dengan cara yang haram? semuanya terpulang kepada diri kita masing-masing.(karena kita telah di anugrahi akal dan pikiran), siapa yang mampu menggunakan akal pikiranya dengan benar maka ia akan selamat baik di dunia maupun di akhirat, Karena dengan cara apapun, jatah rijqi kita tetap telah Allah tentukan, apabila kita menjemputnya dengan cara yang Allah rido’I ,maka kita akan bahagia dunia dan akhirat,begitupun sebaliknya.
Allah swt,,,mengingatkan kita dalam Al-Qur’an Surat Al-A’rooff ayat 179….
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَشِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالانْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لا يَفْقَهُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُوْنَ بِهَآ وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لايَسْمَعُوْنَ بِهَا, أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَمْ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَفِلُوْنَ...
179. Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.
Dalam ayat ini Allah menggambarkan calon-calon penghuni Neraka Jahanam, yaitu orang-orang yang akan celaka hidupnya, karena terlena oleh kesenangan sesaat, sehingga lupa kebahagiaan yang abadi, orang-orang yang tertipu oleh kesenangan fatamorgana, kesenangan semu, kesenangan sementara,
Mereka itu adalah:
1. Orang yang telah Allah anugrahi hati, tetapi hatinya tidak mampu untuk berpikir, berpikir akan kebenaran, berpikir akan hakikat kehidupan, seharunya mereka sadar, bahwa dirinya datang dari Allah, hidup di bumi Allah, dan akan berpulang kepada Allah, Mereka malah sebaliknya, minal maaddah,fil maaddah, ilal maaddah. Mersa hidup datang dari materi “sunat alam” yang ia cari dan yang ia inginkan hanyalah materi, sehingga hidupnya habis untuk mengejar materi, ia merasa akan hidup untuk selamnya, sukses selamanya, padahal semua itu hanyalah sementara belaka. Dan ia mengira kembali hanya akan menjadi materi,(mereka mengira setelah mati tidak ada lagi kehidupan) padahal kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah hidup,yaitu akhirat kelak. dan disanalah tempat kebenaran yang hakiki, kebenaran di hadapan Allah swt…
Q.S.A-Zalzalah ayat 7
فَمَنْ يَعْمَلْ مِشْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرَايَرَهْ,,,وَمَنْ يَعْمَلْ مِشْقَالَ ذَرَّةٍشَرَّايَرَهْ,,,
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat ( balasan)nya pula.
2. Orang yang telah Allah anugrahi mata, tetapi dengan matanya ia tidak mampu melihat kebenaran, melihat cahaya Allah swt. Mereka hanya terpesona kepada kejadian, bukan terpesona kepada Allah yang memberikan semua kejadian.terpesona akan keberhasilan, lupa kepada Allah sang pemberi dan pemilik semua keberhasilan.
3. Orang yang telah Allah anugrahi telinga, tetapi dengan telinganya ia tidak mampu dan mau mendengar kebenaran, dalam hatinya tersimpan rasa sombong, merasa diri orang yang hebat, luar biasa sehingga tidak mau manerima dan mendengar kebenaran dan lupa kepada Allah sang pemilik dan penguasa semuanya, Hanya milik Allah lah semua yang ada,,,hanya kepada Allah kita mohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita akan berpulang.
Ws……..





Tidak ada komentar:
Posting Komentar